


Wisata Lesu, 'Batu Malin Kundang' Tak Lagi Ditengok
Wisata Batu Malin Kundang (Foto: Rus Akbar/Okezone)
PADANG - Sisa trauma yang dialami penduduk Sumatera Barat dan sekitarnya usai gempa berkekuatan 7,6 skala richter masih berbekas. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kunjungan wisata di Kota Padang yang masih lesu dibanding sebelum terjadinya gempa tersebut.
Obyek wisata andalan Kota Padang yakni batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan pun ikut terkena imbas akibat pengunjung yang kian sepi hari demi hari. Akibatnya, banyak warung penjaja makanan dan penjula berbagai aksesoris khas lokal ikut ditutup. Meski ada yang bertahan, pedagang harus menelan kenyataan pendapatannya berkurang hingga 80 persen dari pendapatan biasa.
"Sebelum gempa saya bisa menghasilkan uang sebanyak Rp300 ribu-Rp800 ribu perhari terutama libu, tapi sekarang sehari saya hanya mendapatkan uang sebanyak Rp30 ribu sampai Rp40 ribu dari hasil penjualan makanan," kata Suhetri (30), pemilik warung kopi saat berbincang dengan okezone, Sabtu (7/11/2009)
Lain lagi cerita kerusakan situs ini akibat goyangan gempa 30 September lalu. Kondisi batu Malin Kundang didapati rusak di bagian tubuh Malin Kundang, seperti tangan, pinggang dan pinggul.
Bak daerah yang ditinggal penghuni, per hari tak lebih dari 10 orang yang datang kesana. Bandingkan dengan kondisi sebelum gempa dimana ratusan pengunjung memadati lokasi pinggir pantai ini.
Tina (20) pengunjung situs batu Malin Kundang mengeluhkan sepinya lokasi ini sekarang. Menurut dia, sepi pengunjung membawa dampak ekonomi bagi para penjaja makanan dan aksesoris di tempat ini.
"Kami kesini hanya menghibur hati karena sudah pusing kami melihat Kota Padang yang banyak reruntuhan bangunan saja, kami memilih ketempat yang tenang bersaa kawan-kawan satu kuliah," pungkasnya. (dnt) (hri)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar